Gambaran Mantar
negeri di atas awan terangkum di dalam puisi di bawah ini.
DESA
PILIHAN
Negeri atas awan
Terletak di desa Mantar
Gunungnya yang tinggi
Memberi kedamaian di hati
Mantar ini desa pilihan
Dijadikan
desa budaya
Menyimpan sejuta keindahan
Rumah panggung menjadi ciri-ciri
Gotong-royong sudah menjadi tradisi
Rumah panggung harus
di jaga
Untuk kemurnian budaya mantar
Ayolah pengunjung
Janganlah ragukan pilihan
Wujudkan tekad dan niat
Demi melihat pesona alam
Ayolah pengunjung
Janganlah ragukan pilihan
Wujudkan tekad dan niat
Bahagia itu akhir tujuan
Contoh Percakapan
Sederhana dalam Bahasa Mantar
A : apa rungan sia /
kau ? (gimana kabar mu ?)
B : rungan balong.
(kabar baik)
A : tau me sia ? (kamu
orang mana ?)
B : tau seteluk, cia ow
? (orang seteluk, kamu ?)
A : tau mantar, sai
singin sia ? (orang mantar, siapa namamu ?)
B : pati, ba sia sai
singin si ? (pati, kalau kamu siapa namamu)
A : Devi. Me lako sia ?
(Devi. mau kemana ?)
B : ku lalo lako amat.
(saya mau ke pasar)
A
: lamin sia lalo ko mantar lalo ko bale kaku, baya bae tau we, mepang bale la pati tau, ya ton si ning
tau son ow. (kalau kamu pergi ke mantar mampir ke rumah saya, bilang dimana
rumahnya pati, di tahu sama orang sana).
B : aok. Tom tu lalo ko desa. (ya.
Ayok ke kampung saya)
A : aok nar puan mo.( ya besok2
atau lusa).
Kata
Sia
dan kau
memiliki makna yang sama yaitu “Kamu”.
Kata
“Sia”
di pakai untuk berbicara dengan orang yang lebih besar dari kita sedangkan kata
“Kau”
di pakai untuk berbicara dengan orang sebaya atau lebih kecil dari kita.
Panorama Gunung Mantar
A.
Asal-usul
Desa Mantar
Kini kata “ Mantar “ mungkin sudah tidak asing lagi di telinga banyak orang
semenjak di jadikannya lokasi utama dalam pembuatan Film Serdadu Kumbang yang
di Sutradarai oleh Ari Sihasale. Memang benar MANTAR adalah sebuah desa yang berada tepatnya di atas Gunung pada
ketinggian 630 meter di atas permukaan air laut dan termasuk salah satu daerah
terpencil yang terletak di wilayah KSB. Disini saya akan mengulas tentang asal
usul desa Mantar. Menurut H. Sulaiman yang sudah lama menetap di desa
Mantar yang telah di ceritakan oleh
orang dulu mengatakan bahwa Kata mantar ini berasal dari nama seorang jendral
yaitu “MANTRI ”. Konon awalnya Mantar bernama "Mount Tarry".
Mount artinya gunung dan Tarry artinya tinggal,
jadi Mount Tarry maksudnya gunung tempat tinggal. Namun seiring
berjalannya waktu karena penyebutannya sulit di ucapkan oleh orang dulu maka di
singkat Mount Tarry menjadi mantar. Nama
ini mengingatkan kita bahwa penemu pertama AI MANTE adalah seorang Mantri. menurut
salah satu warga mantar juga mengatakan bahwa kata mantar berasal dari 2 kata
yaitu Man dan Tar. Man artinya
Manusia sedangkan Tar artinya
terdampar. jadi mantar adalah tempat berkumpulnya manusia terdampar yang
memilih menetap di atas Gunung.
Mantar mempunyai semboyan yaitu “ Bau
melantar Bariri “. Makna dari kalimat ini adalah Bau melantar berarti jika
menginginkan sesuatu (keinginan yang kuat) dan Bariri berarti membuahkan
hasil. Semboyan ini di tujukan kepada keturunan Mantar dengan harapan jika
sudah mempunyai keinginan yang kuat maka harus benar-benar niat untuk di
kerjakan (tidak boleh di kerjakan setengah ).
Konon pada zaman dahulu sebelum Indonesia
merdeka, di kisahkan oleh masyarakat Mantar berlayarlah sebuah Bangka atau perahu kayu yangmana di dalamnya terdapat
berbagai macam suku yaitu Jawa Gresik, Portugis, Jepang, Belanda, Jerman,
sulawesi dan Banglades. Bangka adalah nama kapal zaman dahulu yang di pakai
untuk berlayar menyeberangi lautan. Setelah berlayar beberapa malam Bangka itu
mengalami goncangan karena angin yang besar, bangka itu di bawa oleh arus hingga
terdampar ke tepi pantai sementara orang-orang di dalamnya dan semua peralatannya
seperti 2 buah Guci, Gong, Gali Punti dan Gali Salaguri ikut di bawa oleh
mereka. Bangka itu pecah di pesisir pantai dan menjadi batu yang sekarang di
kenal dengan sebutan BANGKA BLA’. Tempat ini bisa di jumpai di desa Tuananga. Bangka Bla’ artinya Kapal
pecah. Disinilah terdapat tanda jejak kaki orang-orang dulu dan layar kapalnya
yang menjadi batu. tempat ini menjadi bukti kekuasaan Allah Swt.
Bukti
bekas jejak kaki orang dulu
Layar Bangka
yang menjadi batu
Sebelum
tempat ini menjadi batu, Di pinggir pantai inilah mereka berisirahat dan
bermalam di sana untuk sementara waktu. Setelah beberapa minggu bermalam di
sana penumpang-penumpang Bangka yang terdampar itu menemukan kesulitan dengan
air. Akhirnya mereka berjalan dan terus berjalan hingga salah seorang dari
mereka yaitu seorang MANTRI (Jenderal)
yang bernama Rahman menemukan sebuah mata air, dan akhirnya dipanggillah
teman-teman mereka dan mereka membuat sebuah pemukiman disana. setelah itu
Rahman dan Ramui mencoba menggali mata air itu tetapi tetap saja mata airnya
kecil. Kecilnya mata air ini membuat mereka berpikir untuk berpindah tempat
karena air merupakan sumber kehidupan.
Akhirnya
Rahman, Ramui dan teman yang lainnya sepakat untuk menggunakan burung sebagai
alat untuk bisa menemukan mata air yang lebih besar. Mereka percaya bahwa
dimana burung berhenti pasti di sana ada mata air. pada saat itu di lihatlah
burung terbang dan mereka mengikutinya hingga pada akhirnya burung itu berhenti
di sebuah pegunungan yang tinggi yangmana di atas gunung ini ada mata air.
Setelah itu Rahman menggali mata air itu, semakin dalam di gali semakin besar
air yang keluar. Karena besarnya air yang keluar itu membuat mereka khawatir
akan terjadi banjir maka Rahman menyuruh Ramui untuk mengambil Gong dan Gali
Punti yang di bawa dari Bangka dan di taruh di dalam Air itu guna untuk
menghalangi terjadinya banjir pada waktu itu.
air ini
berbentuk seperti danau yang sekarang di kenal dengan sebutan “ Ai
Mante ”. Di kisahkan dulu seandainya Gong dan Gali Punti tidak di taruh
di dalam Ai Mante ini maka akan terjadi banjir besar yang dapat membahayakan desa
yang berada di kaki gunung mantar. Akhirnya penumpang Bangka yang terdampar itu
memutuskan untuk menetap dan bercocok tanam di sana sampai sekarang.
B. Mantar yang dulu
Dulu
mantar adalah desa tertinggal yang masyarakatnya masih awam dan tingkat
pendidikannya bisa di bilang rendah. Ini terbukti dengan sedikitnya orang yang
sekolah pada masa itu. Dulu hanya ada satu sekolah di mantar yaitu SDN 1
mantar. Sekolah ini merupakan sekolah pertama yang bisa di masuki. Pada saat
itu sedikit sekali orang tua yang mau menyekolahkan anaknya sehingga sebagian
siswa di jemput oleh guru ke rumahnya. Para orang tua tidak begitu menghiraukan
anaknya sekolah dan lebih senang mengajak anak mereka ke kebun atau ladang.
Dulu masyarakat mantar merasa kesulitan
untuk melanjutkan anaknya sekolah ke jenjang yang lebih tinggi karena di sana
tidak ada sekolah SMP apalagi SMA sehingga jika ingin melanjutkan sekolah harus
turun ke bawah gunung mantar dengan berjalan kaki dan harus melewati hutan.
Inilah salah satu yang menjadi penyebab utama sedikitnya orang tua yang mau melanjutkan
sekolah anaknya. di tahun 2004 inilah sebagian besar melanjutkan sekolah. Untuk
bisa menuju sekolah SMP atau pasar seteluk membutuhkan perjuangan dan tekad
yang kuat. Mau tidak mau kita harus jalan kaki karena hanya itu jalan
satu-satunya yang bisa di lewati supaya bisa melanjutkan sekolah. Untuk bisa
sampai ke sekolah itu maka harus jalan kaki kira-kira kurang lebih 5 km dengan
melewati hutan dan jalannya yang terjal serta berkerikil membuat kaki kita
gemetaran. Jika tidak berhati-hati ketika jalan bisa jadi kita terjatuh.
Karena
terlalu jauh untuk pulang pergi maka harus ngekos di tempat yang agak dekat
dengan sekolah SMP supaya bisa jalan kaki pergi sekolah. Pada tahun 2010 lalu,
desa mantar mendapat bantuan mantar supaya bisa menggunakan kendaraan ke sana. Dengan
adanya jalan itu sangat memudahkan masyarakat mantar karena tidak perlu
bersusah payah jalan kaki untuk bisa sekolah ataupun pergi ke pasar. Semenjak
di buatkannya jalan itu, jalan yang dulu jarang di lewati. Jadi sekarang ada 2
jalan yang bisa di lewati untuk naik ke mantar yaitu bisa jalan kaki lewat
jalan Ai olat dan lewat jalan tapir.
C. Adat – Istiadat Desa Mantar
Seiring
perkembangan zaman, kini Desa mantar menjadi sorotan dan menarik perhatian
banyak orang yang mulanya di anggap desa terbelakang. Mantar ini mulai di kenal
oleh banyak orang semenjak di jadikan film Serdadu Kumbang. pemandangannya yang
indah dan suasananya yang sejuk memberikan kebahagiaan tersendiri bagi setiap
penggunjung yang datang.
Sejauh yang
saya ketahui ada 3 adat yang masih di pertahankan di Mantar sampai sekarang
yaitu Adat Sedekah Pisor, Takbir dan Ntek Dulang.
1.
Sedekah Pisor
Sedekah artinya memberi sedangkan Pisor adalah jajan
yang berbentuk seperti bantal guling yang berisikan beras ketan di campur
dengan kelapa yang sudah di parut dan di isi di dalam daun kelapa yang sudah di
bentuk. Jadi sedekah Pisor yaitu
menyedekahkan pisor kepada orang selain orang mantar sebagai bentuk rasa
syukur karena bisa mendapat hasil panen padi. Sedekah pisor merupakan salah
satu adat yang masih di pertahankan oleh masyarakat mantar sampai sekarang.
Adat ini di
laksanakan sekali dalam setahun tapi jika hasil panen tidak bagus biasanya
sedekah pisor ini tidak di laksanakan. Apabila harinya sudah di sepakati maka
di undanglah orang banyak. Yang biasa di undang adalah orang Tuananga, Kiantar,
Omal sapa’ dan desa-desa lain yang berada di kaki Gunung Mantar. Proses
pelaksanaannya di lakukan selama 2 hari. Hari pertama masyarakat mantar membuat
sekaligus memasak pisor. Kemudian hari kedua tamu undangan berkumpul di Masjid
sementara masyarakat mengantarkan pisor
ke Masjid. Setelah itu di bagikan kepada tamu Undangan.
2.
Ntek Dulang
Ntek Dulang
adalah adat desa Mantar yang di laksanakan pada saat hari Raya yaitu hari raya
Idul Fitri dan Idul Adha. Yang di lakukan disini adalah saling menukar jajan
dengan orang lain. Kira-kira kurang lebih 10 hari sebelum hari Raya masyarakat
mantar mulai membuat jajan yang nantinya akan di bawa ke Masjid. Yang biasa di
buat adalah Rengi, Urai, wajik, telinga bali dan tare’. Satu rumah membawa 2
buah Dulang yaitu 1 Dulang untuk tempat nasi dan lauk-pauk dan dulang yang
satunya sebagai tempat jajan yang di
hias sedemikian rupa oleh pemiliknya. Mereka menyelipkan kertas kecil yang
bertuliskan nama mereka masing-masing di atas Dulang yang berisi lauk-pauk
supaya di ketahui siapa pemiliknya. Nah setelah solat Idul Fitri 2 dulang yang
sudah di hias di bawah ke masjid dan perwakilan dari setiap rumah berhenti di
masjid. Setelah semuanya telah duduk rapi maka proses penukaran jajan ini baru
di laksanakan. Setelah pulang dari masjid baru pergi ziarah ke kubur keluarga
masing-masing.
Adat ntek dulang di mantar
3.
Takbir
Takbir
adalah acara yang paling besar di Mantar. Takbir di sini bukan membaca seperti
bacaan yang selalu kita baca ketika Hari Raya akan tetapi Penamatan Al-Qur’an
yang di mulai dari surah Ad- Duha sampai An-Nas. Hari pertama pergi ngaji, anak
yang mau ngaji di antar oleh orang tuanya untuk di serahkan lansung kepada
gurunya. adat takbir ini bertujuan untuk mengambil kembali anak yang telah di
serahkan mengaji ke rumah gurunya. Kenapa harus takbir ? karena kepercayaan orang mantar, kalau tidak
takbir maka status anaknya masih anak dari gurunya. Sehari sebelum acara
Takbir, sebelum magrib orang yang akan Takbir bersiap-siap untuk “ Barodak
”.
Barodak
adalah dioleskannya beras kuning yang sudah di tumbuk ke seluruh tubuh oleh
orang yang sudah di percayai di sana. Proses barodak ini dilakukan 2 kali yaitu
setelah magrib dan tengah malam kira-kira jam 11 malam. kemudian di mandikan
setelah solat subuh dengan tujuan agar indah dan segar di pandang orang. orang
yang takbir di haruskan memakai baju jubah putih. Biasanya acara takbir di
lakukan jam 9 yang di hadiri oleh orang banyak dan harus gurunya yang menyimak
ketika membaca ayat-ayat pendek. Takbir ini di haruskan bagi orang yang telah
menyerahkan anaknya untuk ngaji. Adat ini bisa di lakukan kapan saja sampai
orang tuanya siap dengan syarat anaknya sudah pernah tamat Al Qur’an 30 juz.
D.
Masakan dan jajan khas Mantar
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa
sepat dan singang adalah masakan khas sumbawa. Kedua masakan khas ini juga
merupakan masakan khas mantar.
Sejauh yang
saya ketahui ada beberapa jenis jajan yang sering di buat oleh orang mantar
yaitu Rengi, wajik, urai, telinga bali dll. Rengi adalah jenis jajan yang
terbuat dari ketan putih atau hitam yang di kukus kemudian di bentuk sesuai
dengan percetakannya atau dalam bahasa Mantar di sebut “pamagan”. Alat
tradisional ini di buat dari bambu yang sudah di tipiskan. ada yang berbentuk
segi tiga, bentuk jantung, bulat, lonjong dan segi empat. cara pembuatannya
sangat sederhana hanya butuh waktu 5 atau 10 menit untuk membuatnya dan
siapapun bisa membuat alat ini.
sebenarnya bisa saja di buat tanpa
menggunakan alat. Kenapa harus menggunakan alat ? supaya lebih mudah di bentuk
dan terlihat rapi serta indah di lihat. Rengi juga merupakan jajan yang sering
di buat oleh orang Lombok ketika ada acara tertentu seperti di acara pernikahan
dan namanya mempunyai kemiripan. rengi dalam mantar sedangkan dalam bahasa
sasak ada penambahan huruf “ g” menjadi
Renggi. proses pembuatannya juga sama hanya saja kalau di mantar di buat lebih
tebal sedikit supaya ketika di goreng rengi tidak pecah. Jajan wajik juga
sering di buat oleh orang lombok tapi nama jajannya bukan wajik akan tetapi
jajan pangan. Walaupun sama tetapi ada perbedaan dalam proses pembuatannya.
Kalau dilihat dari hasil kedua jajan
yang sama ini, letak bedanya kalau pangan warnanya tidak terlalu hitam
sedangkan wajik dalam bahasa mantar berwarna hitam. Ternyata letak bedanya
adalah tergantung lamanya di masak, menurut ibu saya yang sering membuat jajan
ini mengatakan bahwa alasan di biarkan di atas api lebih lama supaya jajan itu
tidak cepat rusak dan bertahan lebih lama. Di Lombok kedua jajan ini di buat
ketika ada pernikahan dan syukuran Haji sementara kalau di mantar di buat untuk
menyambut Hari raya baik Idul Fitri maupun Idul Adha dengan tujuan supaya jajan
ini bisa menjadi sedekah sehingga bisa di bawa bersamaan dengan zakat
Fitrah.
v Urai dan Telinga Bali jajan khas
mantar
Sesuatu yang unik atau yang di sebut khas memiliki tempat tertentu untuk
bisa mendapatkannya. Di sebut khas karena hanya di tempat itu kita bisa
mendapatkan apa yang kita cari seperti jajan urai dan telinga bali yang hanya
bisa di dapatkan di desa Mantar. Misalnya tidak lengkap rasanya kalau ke lombok
tidak ke gunung rinjani, ke taliwang tidak ke Bundaran kemutar telu center (KTC)
dan Masjid Agung Darussalam dll. Begitupun dengan mantar, tidak lengkap kalau
tidak mencicipi makanan maupun jajan khasnya karena setiap tempat pasti ada
khasnya masing-masing. Urai adalah jajan yang terbuat dari
tepung beras yang di campur dengan gula pasir dan ada juga yang menambahkan
gula merah. Alat yang di pakai adalah alat khusus yang telah di buat sendiri
oleh orang sana yang dalam bahasa mantar “
pamagan urai ”.
alat ini terbuat dari kulit kerasnya kelapa yang di lubangi kecil-kecil
dan biasa di buat berbentuk segitiga dan seperti bantal guling.
Selain itu ada juga jajan telinga
bali. Nah penasaran kan dengan nama jajan ini ? mungkin bagi orang yang
baru mendengarnya menganggap bentuk jajan ini seperti telinganya orang bali. Memang
benar bentuknya agak mirip dengan daun telinga. Dulu jajan ini pertama kali di
lihat di bali dan di bawa serta di buat di mantar. Jadi Telinga adalah bentuk
jajannya sedangkan bali adalah tempat pertama kali di lihatnya jajan tersebut.
Oleh sebab itulah di beri nama telinga bali.
E. Tradisi Gotong- royong
Gotong-royong merupakan kerjasama yang di jujung tinggi oleh masyarakat
mantar seperti gotong-royong dalam membuat rumah, membersihkan jalan, kuburan
dll. Sejauh yang saya ketahui tradisi gotong-royong hampir punah di daerah
sumbawa karena kebanyakan menganggap segala hal bisa di kerjakan dengan uang
tetapi di desa ini tradisi gotong-royong tetap di pertahankan sampai saat ini.
Tradisi ini bertujuan saling membantu ketika ada acara-acara tertentu seperti
ketika ada orang nikah, takbir, syukuran haji yang dapat di lihat pada gambar
berikut.
Mungkin
saudara bertanya apa yang di lakukan oleh orang-orang dalam gambar di atas.
Seperti yang kita lihat bahwa orang
tersebut sedang memegang bambu. Dalam bahasa mantar di sebut Nunya’.
Nunya’ maksudnya menumbuk padi atau sama dengan menggiling padi mengggunakan
pabriknya. Nunya’ adalah cara melepas kulit padi dengan cara menumbuk
menggunakan bambu yang di sebut Deneng.
Kenapa padi perlu di tunya’ ? menurut sebagian orang mengatakan supaya zat gizi
dalam beras tidak hilang.
F. Tradisi Mengambil Air di
Mantar
Memang
negeri atas awan itu sudah banyak mengalami perubahan dari segi pendidikan,
perbaikan jalan dan perbaikan gang desa tetapi tetap saja masalah air masih
belum bisa teratasi. Di sana ada satu sumur yang airnya bersih, sejuk dan tidak
mengandung zat kapur. Air ini sering di sebut Ai’ Sumur. Sumur ini
memiliki kedalaman kurang lebih 5 meter dan berbentuk segi empat. Ada banyak
sumur di mantar tetapi hanya sumur itu satu-satunya air yang sejuk di minum dan
bertahan pada musim kemarau walaupun harus melalui proses ngantri. Meskipun
begitu ai’ sumur ini tetap di ambil oleh orang sekampung mantar. Jadi bisa di
bilang satu sumur untuk orang sekampung. Biasanya waktu yang di pakai untuk
mengambil air minum (Ai’ Sumur ) setelah solat subuh supaya paginya bisa mengerjakan
pekerjaan lain.
Sebelum
pergi ambil air harus mempersiapkan 4 hal yaitu tenaga, gayong ( timbah bertali
), kain dan ember. Kain di pakai di atas kepala sebagai alas supaya kepala
tidak sakit ketika membawa air. Memang ada yang membawa dengan cara
menjinjingnya akan tetapi lebih banyak yang membawa air dengan ember yang di
taruh di atas kepala atau yang di kenal dengan “ Bareson “ dalam bahasa mantar. Biasanya orang ngantri
mengambil air pada waktu bulan
puasa. Jika mau mendapatkan air maka kita harus bangun sebelum orang lain
bangun baru bisa mendapakan air tanpa mengantri. Jadi cocok dengan kalimat yang
mengatakan “ siapa duluan dia yang dapat “.
Ketika
air habis maka masyarakat mantar membuat kelompok antrian air. Satu kelompok
terdiri dari 4 atau 5 orang. biasanya jarak tunggu antara kelompok satu dengan
kelompok lain sekitar sehari. Untuk air yang di pakai mandi dan nyuci biasanya
kita harus jalan turun ke bawah melewati hutan. Di sana ada beberapa mata air
diantaranya Ai’ Baru, ai’ Tete dan ai’ Bua’. Jadi jika ingin mandi dan nyuci
mau tidak mau harus berjalan kaki beberapa kilometer dengan melewati jalan
setapak karena belum ada jalan besar.
G. Tradisi nikah di Mantar
Setiap daerah atau desa pasti memiliki adat
yang berbeda seperti halnya pernikahan. Laki-laki dan perempuan yang ingin
menikah pasti melewati proses yang namanya merari’ atau Tama bakatoan. Merari’
adalah cara awal yang di lakukan untuk bisa menikah. Biasanya Laki-laki dan
perempuan pergi ke rumah keluarga laki-laki atau perempuan tergantung
kesepakatan kedua belah pihak. Proses merari’ ini kebanyakan di lakukan pada
malam hari. Selain merari’ ada juga yang pergi Tama bakatoan. Jika di
indonesiakan sama artinya dengan pergi melamar.
Tama
bakatoan yaitu keluarga laki-laki pergi ke rumah keluarga perempuan untuk
meminta supaya di nikahkan dengan anaknya. Yang memilih melamar membutuhkan
biaya yang besar karena harus melakukan pesta pernikahan di lapangan pada malam
hari dan biasanya di lakukan oleh keluarga berada. Setelah memberi tahu niat
mereka untuk menikah kepada pemilik rumah tempat pergi merari’ maka pemilik
rumah akan memberikan tahu kepada orang tua laki-laki dan perempuan. Setelah di
ketahui oleh orang tua laki-laki dan perempuan maka di lakukan proses
selanjutnya yaitu satemu karante dalam bahasa mantar.
Satemu karante sama dengan rapat
keluarga yang bertempat di rumah perempuan untuk memutuskan maskawin dan semua
hal yang mendukung terlaksananya pernikahan. Mayoritas orang mantar adalah
petani dan rata-rata memiliki tanah. Itulah sebabnya maskawin yang di minta
oleh orang tua perempuan adalah tanah dan uang untuk keperluan pernikahan
sampai selesai. Kenapa tanah yang menjadi maskawin ? karena tanah adalah sumber
penghidupan setelah menikah sekaligus menjadi warisan untuk keturunannya kelak.
Jika semuanya telah di sepakati maka akan di lakukan pembuatan jajan di rumah
perempuan selama beberapa hari.
Dulu akad
nikah berlansung di masjid mantar akan tetapi sekarang bertempat di kantor KUA.
Pada Hari pernikahan kedua mempelai pergi ke kantor KUA sementara orang tua
mereka di rumah memberi makan kepada masyarakat sekitar. Setelah makan satu
persatu orang di bagikan sebuah plastik yang berisikan berbagai macam jajan.
H. Proses pembuatan rumah panggung
Rumah
panggung adalah sebuah tempat berteduh yang terbuat dari kayu sebagai bahan
dasarnya. Biasanya rumah panggung tendiri dari 14 tiang tetapi jika
menginginkan rumah yang lebih besar maka cukup di tambahkan tiang lagi sesuai
keinginan pemiliknya. Selain sebagai tempat berteduh rumah panggung juga
memiliki banyak kegunaan yaitu di bawah rumah bisa di gunakan sebagai Lumbung
Padi (tempat menyimpan padi), tempat kandang kambing dan tempat berlindung dari
banjir. Di mantar masih sangat menjunjung tinggi nilai Gotong-royong, salah
satunya dalam membuat rumah. Pembuatan rumah panggung di kerjakan dengan cara
gotong-royong. Jika semua tiang dan peralatan yang lainnya sudah terkumpul maka
tiang-tiang itu akan di tata / di lubangi satu persatu.
Setelah
itu baru di masukkan pada setiap ujung yang di lubangi. Kemudian di dirikan dan
di pasang papan. Di dalam rumah panggung juga terdapat beberapa kamar yang di
dindingi dengan menggunakan triplek. jadi
hasilnya bisa dilihat pada gambar di bawah ini.
I. Penghasilan di mantar
Mayoritas
penghasilan orang mantar adalah padi karena sebagian besarnya adalah petani.
Ada 3 tempat yang bisa di tanami padi yaitu di sawah, Kebun dan ladang. Untuk
bisa menanam padi di sawah maka harus menunggu turunnya hujan karena di sawah
membutuhkan air banyak. Biasanya padi di kebun dan di ladang lebih dulu di
tanami daripada di sawah karena di kebun
dan ladang tidak perlu menunggu air hujan hanya saja ketika di tanami tanahnya
minimal harus lembab supaya padi bisa tumbuh. Di kebun dan di ladang bukan
hanya padi yang bisa di tanami tetapi bisa juga di tanam jagung dan timun dalam
waktu yang bersamaan.
Tidak
hanya itu, di pinggir kebun juga bisa di tanami sayuran seperti komak dan kacang panjang. Di mantar hanya bisa
mengambil hasil panen sekali dalam setahun karena kekurangan air jadi hanya
mengharapkan air hujan saja. Padi yang sudah di dapatkan tidak di jual akan
tetapi di simpan di lumbung padi untuk persediaan bekal tahun depan karena
khawatir tidak turun hujan. Gotong-royong tidak di pakai dalam acara nikah akan
tetapi juga dalam menanam padi sampai panen padi. Tradisi saling membantu
ketika menanam padi masih di pertahankan di mantar. Prosesnya berlansung ketika
ada orang menanam padi sebagian masyarakat mantar pergi membantu begitupun
ketika yang membantu menanam padi maka akan di bantu juga sehingga sebanyak
apapun yang di lakukan terasa ringan dan pekerjaan cepat selesai. Jadi siapa
yang membantu maka akan di bantu.
J.
Sekolah satu-satunya di Mantar
Sekolah adalah salah satu tempat menuntut
ilmu dan juga merupakan jalan untuk mencerdaskan anak Bangsa. Dulu di mantar
Cuma ada satu sekolah yaitu SDN 1
Mantar. Karena semakin banyaknya murid yang masuk setiap tahun maka di bangun
lagi sekolah yaitu SDN 2 mantar. Ketika ada anak yang masuk sekolah maka siswa
di bagi 2 sebagian di SDN 1 dan sebagian lagi di SDN 2. Pada tahun 2003 SDN 1
mantar di terpa oleh angin dan gempa yang sangat dahsyat. Meskipun angin dan
gempa hanya beberapa menit tapi akibat yang di timbulkan sangat besar yaitu
atap sekolah hampir semuanya terlepas dan temboknya juga banyak yang belah
sehingga semua kelas tidak layak di pakai untuk belajar.
Melihat kondisi itu, guru memindahkan
tempat belajar di luar kelas yaitu di bawah pohon mangga dan pohon nangka yang
berada di depan kelas. Proses belajar di bawah pohon itu tidak berlansung lama
karena para guru cepat menemukan solusi yaitu dengan cara memindahkan siswa SDN
1 ke SDN 2 untuk ikut bergabung belajar di sana. Dulu guru yang mendapat tugas
mengajar di mantar harus jalan kaki karena tidak ada jalan lain yang bisa di
lewati untuk bisa sampai ke mantar. Guru yang bertahan pada saat itu adalah
guru yang sangat luar biasa karena sanggup melewati hutan dengan jalan kaki.
Kalau bukan karena niat, keikhlasan dan tekat yang kuat tidak mungkin bertahan
mengajar di sana. Keikhlasan yang membuat orang mulia dan di kagumi oleh orang
lain.
Seiring berjalannya waktu, di bangun lagi
sekolah SMP yang berlokasi di tempat
yang sama yang di kenal dengan Sekolah SATAP (satu atap) POTO TANO. Sekarang
hanya Sekolah ini satu-satunya yang berada di Mantar. Sekolah yang tertinggi di
KSB adalah sekolah mantar. Tertinggi maksudnya di sini bukan kualitas sekolah
ataupun ilmunya akan tetapi tempat sekolahnya yang tinggi dan berada di atas
gunung. Proses belajarnya juga tidak
jauh beda dengan sekolah yang berada di bawah. Kebanyakan tenaga pengajar /
guru berasal dari daerah lain seperti Lombok, jawa, seteluk, Taliwang dll.
K. Kubur Markat di Mantar
Semua daerah atau desa pasti memiliki tempat
khusus pemakaman begitupula dengan mantar. Ada 2 tempat pemakaman di mantar
yaitu di Pamanto’ dan Bruta’. sebelum sampai pamanto’ pasti kita melewati yang
namanya kuburan. Di tempat itulah nenek moyang orang mantar di makamkan dan
ketika ada yang meninggal juga di kuburkan di sana sampai sekarang. Di antara
banyaknya kuburan tersebut ada satu kuburan yang berbeda dengan yang lainnya
karena memiliki batu misan yang tinggi. Kuburan ini di sebut “Kubur
Markat” oleh sebagian orang sana. Kubur markat ini pasti memiliki
sejarah kenapa di beri nama seperti itu karena orang dulu tidak begitu
menghiraukan sejarah. Ketika orang yang luar biasa meninggal dunia sejarahnya
ikut hilang sehingga tidak tercatat dalam sejarah. Jadi itu sebabnya tidak
banyak sejarah yang bisa saya tulis.
Kemungkinan
kubur markat itu adalah makam orang alim pada zaman dulu karena kata markat itu
maksudnya Berkah. Kata “ Berkah ”
memiliki makna yang mendalam. Contohnya seperti orang yang ilmunya berkah. Dia
pasti memiliki guru yang sangat luar biasa seperti Ulama’ besar TGKH. Muhammad
Zainuddin Abdul Majid selaku pendiri NW. Ciri- ciri ilmu yang berkah / orang
yang berkah hidupnya adalah :
1.
Selalu di ingat
2.
Memiliki guru yang luar biasa
3.
Selalu senang bersamanya
4.
Jika tidak ada di rindukan
Ada lagi kuburan yang jarang
di ketahui oleh orang bahkan orang mantar sendiri banyak yang tidak
mengetahuinya yang bertempat di Bruta. Kubur- kubu itu tidak di jadikan kubur
umum karena agak jauh dari rumah masyarakat. Jadi hanya ada 3 buah kubur saja di sana dan posisinya terletak di
bawah pohon beringin jalan menuju ke Bruta’. Menurut salah satu masyarakat
mantar, ketiga orang yang meninggal itu adalah orang-orang yang mati perang
karena membela Agama. Kuburan itu sering di gunakan untuk membayar nazar dengan
cara di mandikan di sana. Memang pada hakikatnya Allah SWT. Yang menyembuhkan
orang sakit bukan kubur / Makam akan tetapi Allah menghendakinya dengan jalan
menziarahi kubur / makam.
contoh kalimat orang bernazar
yang biasa kita dengar “ jika penyakit yang kamu derita sembuh maka
saya bernazar untuk memandikanmu ai mante “. Ada 2 tujuan orang
membayar nazar yaitu melaksanakan janji / nazar yang telah di ucapkan dan
sebagai bentuk rasa syukur karena telah di berikan kesembuhan. Jika suatu
tempat di gunakan sebagai tempat untuk membayar nazar berarti ada sesuatu yang
lebih di tempat tersebut.
Kebiasaan orang mantar pergi
ziarah kubur setelah solat Idul Fitri dan Idul Adha. Setelah solat Idul Fitri
dan Idul Adha maka orang-orang yang berada di kaki gunung Mantar seperti orang
Tuananga, kiantar, Omal sapa’, dan sagena datang ke desa mantar untuk berziarah
ke rumah keluarga dan sanak saudara serta ziarah kubur. Kenapa mereka harus
ziarah kubur ke mantar ? karena semua orang dari desa itu asal mulanya dari
mantar dan otomatis nenek moyang mereka kebanyakan di kuburkan di sana. Jadi
kalau hari lebaran suasana di desa mantar ramai dengan orang- orang yang pergi
ziarah.
L. Tempat Membayar Nazar
Di mantar ada 3 tempat yang di percaya
oleh orang sebagai tempat untuk membayar
nazar yangmana terletak di berbagai tempat yaitu di Ai’ Mante, di kubur Bruta’
dan di Bangka Bla’ (Tuananga). Di Ai’ Mante sering di gunakan untuk membayar
nazar oleh orang. biasanya setelah di mandikan di sana orang yang sakit menjadi
sembuh. Mungkin ada terbesit di benak saudara/i, bukankah meyakini sesuatu
selain Allah SWT termasuk syirik ? hal itu memang benar tetapi yang harus di
ketahui bahwa Allah memiliki cara tertentu untuk menyembuhkan atau menolong
hamba-hambanya. Memandikan hanya sebagai syarat yang harus di penuhi sebab
Allahlah yang menghendaki jalan tersebut. Jika Allah sudah berkehendak maka Kun
Fayakun Allah akan terjadi. Jadi bukan Ai’ Mante yang menyembuhkan.
Untuk yang memandikan tidak sembarangan
orang, ada orang yang di percaya untuk memandikannya. Yang biasanya di bawa
ketika membayar nazar adalah ayam, pisor dan ketupat. Setelah dimandikan baru
ayam di lepas di dalam Ai’ Mante dan biasanya anak-anak masuk ke ai mante untuk
mengambil ayam yang telah di lepaskan. Kemudian baru pisor dan ketupat di bagi
2 yaitu sebagian di kasih kepada orang-orang yang kebetulan berada di sana dan
sebagian lagi di taruh di otak Ai’ Mante, dulu caranya pisor dan ketupat di
gantung di (pohon baru) tapi karena sekarang pohon sudah tidak ada jadi di
gantung di pagar Ai’ Mante. Ada 3 Manfaat membayar nazar yaitu :
1.
Bisa bersilaurrahmi
2.
Menjadi wadah untuk berbagi
3.
Menepati janji kepada Allah dan
manusia.
M. Kesenian Mantar
Ada 2 kesenian di desa mantar yaitu nyesek dan rabalas
pantun.
1.
Nyesek
Di Era
modern sekarang ini banyak hal yang bisa kita buat dengan mudah dengan bantuan
alat modern seperti membuat sarung, baju, selendang dll. Tapi di mantar justru
menampilkan hal yang berbeda dalam membuat sarung ataupun selendang karena di
desa ini masih menggunakan alat tradisional. Alat yang digunakan adalah Benang,
kayu yang sudah di rakit dan kayu pengerat benang supaya tersusun dengan rapi
sesuai dengan yang di inginkan. kesenian ini di kenal dengan “
Nyesek ”. nyesek kalau di bahasa indonesiakan sama dengan menenun.
Dalam membuat sarung atau selendang dengan cara Nyesek ini membutuhkan
kesabaran dan kejelian mata dalam mengatur benang supaya tersusun dengan rapi
sesuai keinginan serta membutuhkan waktu lama untuk bisa menjadi sarung ataupun
selendang”. Begitulah kata-kata yang di lontarkan oleh penyesek tersebut.
Kesenian ini hampir punah tetapi semenjak di tetapkan sebagai desa budaya
kesenian ini di hidupkan kembali.
Hasil kesenian Nyesek
2.
Rabalas pantun
Selain kesenian nyesek ada satu lagi kesenian yang ada di desa mantar
yaitu rabalas pantun atau dengan kata lain saling balas pantun. Kesenian itu adalah
sebuah hiburan yang biasa di pakai ketika ada pernikahan untuk meramaikan rumah
pengantin. Rabalas pantun di Mantar bukan seperti orang berpantun pada umumnya
akan tetapi di lagukan dengan beberapa variasi lagu. yang perlu di persiapkan
adalah pantun dan gambus / gitar. Rabalas pantun di lantunkan oleh laki-laki dan
perempuan.
Mungkin
kalau sekedar membaca pantun biasa semua orang bisa tetapi di lantunkan dengan
suara yang indah dan menggunakan variasi lagu yang berbeda belum tentu semua
orang bisa karena setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Perempuan yang akrab di panggil Ida ini adalah satu-satunya yang bisa balas
pantun di desa mantar. Dia adalah albino perempuan di mantar yang memiliki
suara yang indah di dengar ketika berpantun. Laki dan perempuan yang berbalas
pantun duduk saling berhadapan dengan aturan perempuannya yang memegang microfone
sementara yang laki memainkan gambus. Ini berlansung sepanjang malam yaitu dari
setelah isa sampai subuh.
Contoh
naskah rabalas pantun :
L : Apalah guna
pergi ke sawah
Jikalau tidak
menutup pintu
Apalah guna pergi ke sekolah
Jikalau tidak menuntut ilmu
P : Buat apa
mempunyai lampu
Kalau bukan untuk di nyalakan
Buat apa mempunyai ilmu
Kalau bukan untuk di amalkan
Rabalas pantun di mantar tidak menggunakan bahasa mantar
akan tetapi menggunakan bahasa indonesia. Naskah di atas jika di artikan dalam
bahasa mantar menjadi :
L : nonya tegas mu lalo lako uma
Lamin nos mu sampat lawang
Nonya tegas mu lalo lako
sekolah
Lamin nos mu belajar
P : keyang tu beka lo lampu
Lamin nuya untuk tu samelik
Keyang beka lo ilmu tu
Lamin nuya untuk tu amalkan
Rabalas
pantun di mantar bukan hanya di lagukan dengan berbagai macam variasi akan
tetapi di dalam pantun itu banyak ilmu yang bisa kita ambil jika kita
benar-benar merenungi isi pantun tersebut. Lewat pantun secara tidak lansung
kita memberikan ilmu untuk orang lain sama halnya dengan menulis. Kenapa kita
harus menulis ? karena lewat tulisan kita bisa menitipkan ilmu untuk orang
lain.
N. Keunikan Desa Mantar
Sekarang, sebagian orang menjuluki desa Mantar dengan
sebutan Negeri atas awan bukan karena desa ini terletak di atas awan akan
tetapi karena tempatnya yang tinggi seperti berada di atas awan. Ada 6 keunikan
desa Mantar yaitu :
1.
Mantar adalah sebuah desa yang sangat
unik karena berada di atas Gunung dengan ketinggian 630 meter di atas permukaan
air laut. untuk mencapai desa ini harus
menempuh jarak yang panjang melewati bebatuan yang terjal. Diperlukan kendaraan
4WD atau yang di kenal dengan Ranger untuk bisa mengakses kesana dengan aman,
ada juga yang menggunakan kendaraan beroda dua bagi orang yang sudah terbiasa
dan ini membutuhkan perjuangan untuk bisa sampai ke sana. di Desa mantar kita
akan dimanjakan dengan pemandangan yang indah. Dari atas puncak mantar inilah
kita bisa melihat lautan, gili kenawa, pelabuhan tano, selat alas dan gunung
Rinjani yang indah di pandang oleh mata seolah-olah gunung Rinjani berada di
samping kita.
Pemandangan yang
terlihat dari puncak mantar
2.
Desa mantar ini mempunyai cerita
sejarah yang kental, konon penduduk desa Mantar berasal dari berbagai macam
suku yaitu Jawa Gresik, Portugis, Jepang, Belanda, Jerman, sulawesi dan
Banglades yang terdampar di pinggir pantai karena kapalnya karam. seiring
berjalannya waktu akhirnya mereka menemukan Mata air yang besar di atas gunung
Mantar. Setelah melihat kondisi sekitar maka mereka memutuskan untuk menetap
dan bercocok tanam disana.
3.
Peninggalan 2 guci tua yang
sekarang bisa ditemukan di depan Masjid An-Nur Desa Mantar. Guci ini dipercayai
sebagai simbolisasi laki-laki dan perempuan. Di dalam guci laki-laki ini ada
orang pernah melihat Naga, keris dan seekor Kuda. Beberapa tahun yang lalu Guci
laki-laki ini pernah di curi oleh orang dan mau di jual tapi pas besoknya Guci
ini mau di jual, malamnya dia bermimpi di kejar dan di injak oleh seekor kuda.
Anehnya rasa sakit di dalam mimpinya di rasakan juga setelah bangun tidur,
beginilah yang di ceritakan oleh pencuri itu. Akhirnya dia menggurungkan niatnya
untuk menjual guci itu dan mengembalikannya ke desa Mantar. Ada lagi peninggalan berupa Gong tua yang di
taruh di dalam Ai Mante. Dahulu kala gong ini dipakai untuk menutupi mata air
yang tidak henti-hentinya mengeluarkan air supaya tidak terjadi Banjir.
2 guci tua peninggalan orang dulu
4.
Disini hidup albino sebanyak 7
orang. albino adalah orang yang berkulit putih seperti Bule. Dikisahkan dulu di dalam Bangka itu terdapat 7 orang bule
tapi sekarang hanya 2 albino yang masih berada di Mantar. Biasanya ketika ada
albino ke-8 lahir maka itu pertanda akan ada albino lain yang meninggal. jumlah
albino akan tetap berjumlah 7 orang , tidak boleh lebih. Begitulah yang
dituturkan oleh orang yang telah di tuturkan oleh orang dulu.
Salah satu Albino yang berada di desa Mantar
5.
Ai Mante adalah danau yang unik
karena bisa berubah warna berdasarkan keadaan desa Mantar. Bila air itu berwarna
merah berarti akan terjadi suatu musibah atau malapetaka. Bila hijau dan
bening/jernih berarti aman dan warna agak kekuningan itu tandanya akan terjadi
sesuatu. Ai Mante juga di gunakan sebagai obat dan sering di gunakan untuk
membayar nazar dengan cara di janjikan dan di mandikan disana. Ajaibnya dengan
izin Allah Swt. Setelah di mandikan di Ai Mante orang yang mulanya sakit bisa sembuh.
6.
Di desa inilah terdapat objek
wisata yang tidak kalah menariknya dengan tempat wisata lainnya yang di kenal
dengan pamanto’. Nah biasanya objek wisata itu
identik dengan pantai, tempat pemandian seperti air terjun dan kolam renang
tapi berbeda dengan suasana di mantar ini yang di juluki sebagai negeri atas
awan oleh sebagian orang yang pernah ke sana. Pamanto’ adalah sebuah tempat yang terletak di bagian paling
pinggir di desa mantar. Di sinilah mata kita akan di manjakan oleh panorama
alam yang masih natural dengan melihat pemandangan alam dari puncak Gunung
Mantar. Yang jelas terlihat adalah lautan, gili kenawa, pulau lombok, pulau
sumbawa, pelabuhan tano, pasir putih, lampu hijau’ desa-desa di bawah kaki gunung Mantar dan
gunung Rinjani bahkan rasanya dekat seperti berada di samping kita. di sana juga
di sediakan beberapa beruga’ sebagai tempat berteduh dari hujan dan panas terik
matahari. tempat ini bukan hanya di jadikan sebagai tempat untuk melihat
pemandangan akan tetapi pamanto’ ini juga di jadikan sebagai tempat take off bagi
paragliding. Di sanalah tempat yang di rindukan oleh sebagian orang yang hampir
setiap hari ada saja pengunjung lalu lalang untuk melihat dan menikmati
pemandangan dari negeri atas awan ini.
Pamanto’ di puncak mantar
Beruga’ di sekitar Pamanto’
O. Mantar saat ini
Dahulu orang mantar sering di anggap remeh
oleh sebagian orang karena keadaan desanya berada di tempat terpencil dan tidak
ada akses jaringan alias tidak ada sinyal. akan tetapi sekarang justru karena
keterpencilannya dan bertempat di atas gunung itulah yang menjadi suatu
keunikan dan menjadi salah satu alasan mantar di jadikan lokasi pembuatan Film
Serdadu kumbang yang di sutradarai oleh Ari Sihasale pada tahun 2010 lalu. ini
adalah film sumbawa pertama yang bertempat di mantar Yang walaupun sebagian besar
aktornya bukan dari mantar tapi tetap saja Mantar telah menorehkan prestasi dan
membesarkan nama pulau sumbawa pada umumnya dan khususnya di wilayah KSB. Anak
mantar yang ikut di film itu adalah kedua adik saya yaitu Sri bintang dan sri devi,
mansur, muhammad dan Ahmad yani.
Gambaran
di Film Serdadu Kumbang
Berkat film itulah Saat ini mantar menjadi buah bibir
banyak orang dengan pesona pemandangan indah yang di milikinya menjadi magnet
yang menarik perhatian orang bahkan mereka berlomba-lomba ke mantar.
Seiring
berjalannya waktu mantar di jadikan sebagai tempat utama paragliding dan
dijadikan sebagai tempat kompetisi bagi paralayang pada tahun 2015 kemarin. peserta
paralayang ini berasal dari negara yang berbeda yaitu singapura, bandung,
malaysia dll. Kini anggapan orang tentang desa terpencil dan pelosok ini sudah sirna
di bawah oleh angin sampai ke awan hingga desa mantar ini di juluki “negeri
atas awan” oleh sebagian
pengunjung. Bukan karena mantar berada di atas awan akan tetapi tempatnya yang
tinggi seperi berada di atas awan dan paragliding itu akan landas di bawah kaki
gunung mantar.
Jadi
puncak mantar dan paragliding itu ibarat sebuah pesawat yang terbang dari
bandara ke awan dan lepas landas lagi di bandara. Ini sama artinya mantar
sebagai awan dan paralayang sebagai pesawatnya. Bagi paragliding, tempat
terbang biasanya di sebut dengan “ Take Off ” sedangkan tempat turun
garis finish di sebut “Landing”.
Desa Negeri
Atas Awan
Paragliding
trip dari atas Mantar
Pada
tanggal 1- 4 september 2016 adalah hari kedua kalinya mantar di pakai sebagai
tempat utama take off bagi paralayang dalam mengadakan kompetisi sekaligus
menjadi moment terindah di negeri atas awan itu. Kedatangan paragliding di
sambut dengan senang hati khususnya oleh masyarakat mantar dan orang sumbawa
pada umumnya. Peserta paragliding berjumlah 105 peserta yang terdiri dari
peserta laki-laki dan perempuan. Mereka datang dari berbagai negara yaitu
korea, padang, bogor, sumatera barat, jawa barat,bandung dll. Peserta paragliding tidak hanya berasal dari
luar akan tetapi ada juga 3 paragliding
mantar yaitu Mukhlis, sudirman dan Doani.
Acaranya berlansung selama 4 hari. Pada
saat itulah mantar kebanjiran pengunjung. Sebagian besar orang
berbondong-bondong ke mantar. Saking padatnya orang mau kesana angkutan umum
mantar yang di kenal dengan Ranger tidak bisa menampung orang banyak yang
berdatangan dari semua penjuru. karena capek menunggu akhirnya sebagian orang
terpaksa jalan kaki demi melihat pesona alam yang di pancarkan oleh gunung
mantar.
Kebahagiaan
paragliding dan para pengunjung hampir redup karena cuaca angin yang tidak
mendukung. Karena melihat kondisi angin yang tidak memungkinkan untuk terbang
akhirnya semua paragliding pulang membawa parasut masing-masing dan acara
kompetisinya di cancel. Hampir semua paragliding pulang membawa kekecewaan tapi
dengan izin Allah Swt. Tiba-tiba setelah jum’atan angin kembali mencerahkan
suasana mantar. Semua parasut di bawa kembali ke tempat Take Off dan mereka terbang
satu per satu sesuai dengan nomor urut mereka masing- masing. Dengan adanya
kompetisi paragliding memberikan manfaat bagi masyarakat mantar. Selain rumah
masyarakat di jadikan sebagai tempat penginapan, masyarakat juga bisa berjualan
snack dan minuman di sekitar tempat Take off yaitu di Pamanto’ desa Mantar.
Aturan
pelayanan yang di berikan oleh mantar adalah untuk makan siangnya bertempat di
lokasi Take off yang di handle oleh semua ibu-ibu PKK desa Mantar. Tujuannya
adalah supaya peserta paragliding tidak capek pulang hanya untuk makan siang.
Jadi peserta paragliding hanya sarapan pagi dan makan malam saja di rumah
masyarakat. Acara kompetisi di laksanakan selama 3 hari yaitu dari tanggal 1-3
Desember 2016 sedangkan tanggal 4 adalah pembagian hadiah.
Sebagian
paragliding terbang dari puncak mantar
ke Poto Tano dan semuanya pergi refreshing ke pasir putih yang mana tempatnya
tidak jauh dari tempat landing. Pembagian hadiah tidak di laksanakan di mantar
akan tetapi di pasir putih supaya setelah pembagian hadiah selesai mereka
lansung pulang ke rumah masing-masing. Menurut kedua peserta paragliding yang
menginap di rumah saya mengatakan bahwa mantar itu indah dan cocok di pakai
untuk terbang paragliding. Kemungkinan mantar akan di pakai lagi sebagai tempat
kompetisi bagi paragliding untuk tahun-tahun yang akan datang.
P. Masa Depan Mantar
Seiring
perkembangan zaman membuat Sebagian masyarakat mantar menganggap rumah panggung
sebagai rumah kuno yang ketinggalan zaman. Ini terbukti dengan semakin
bertambahnya orang yang ingin membuat rumah permanen (rumah Batu). Dulu semua
rumah masyarakat mantar adalah rumah panggung yang bernuansa suasana pedesaan
tapi kini justru rumah panggung di rubah menjadi rumah Batu.
hari Jumat, 7 Desember 2012 merupakan hari di mana Bupati KSB KH. Zulkifli
Muhadli menetapkan desa mantar sebagai desa Budaya guna menarik minat wisatawan
kunjungan ke desa ini. Hamparan persawahan diselingi kebun berpagar pohon
menghiasi perkampungan di perbukitan yang berada pada ketinggian 630 meter di
atas permukaan air laut itu. Tak jauh dari lokasi itu juga nampak rumah-rumah
panggung yang berjejer rapi.
Pepohonan hijau yang mengelilingi perkampungan
dan hawa dingin khas pegunungan terasa kental dengan nuansa pedesaan. Kehidupan
warganya yang tetap mempertahankan tradisi leluhur menciptakan suasana yang
harmonis dan menyimpan sejuta pesona keindahan dan kedamaian sehingga Bupati
Sumbawa Barat yang akrab di panggil kyai Zul mengatakan bahwa desa budaya ini nantinya
akan didukung dengan berbagai fasilitas penunjang. Namun infrastruktur yang
akan dibangun tetap mempertahankan keasliannya agar benar-benar bernuansa
pedesaan.
"Saya
ingin menjadikan Mantar sebagai desa budaya yang mirip dengan sebuah desa
budaya di Cina yakni Desa Wisata "Hallstatt". Jadi nantinya semua
bangunan rumah penduduk berarsitektur khas Sumbawa yakni rumah panggung,"
katanya. Selain itu, Beliau juga
menginginkan di semua halaman rumah penduduk ditanami bunga sehingga
akan nampak indah agar para wisatawan merasa betah menikmati liburan di desa
yang berada pada ketinggian 630 meter di atas permukaan air laut. kini di Desa
Mantar hanya sebagian yang menempati rumah panggung. Ke depan semuanya akan
dilakukan perubahan secara total, sehingga semuanya menjadi rumah panggung.
Rumah permanen yang ada sekarang ini akan diganti dengan rumah yang
berarsitektur khas Sumbawa.
Terkait dengan rencana penggantian sebagian rumah penduduk dengan rumah
panggung dan alat pertanian menggunakan peralatan tradisional Kyai Zul berjanji
akan memusyawarahkan dengan warga. "Saya memastikan bahwa
penggantian rumah penduduk dan peralatan pertanian menggunakan peralatan
tradisional itu tidak akan dilakukan secara paksa dan tidak akan merugikan
masyarakat, karena semuanya dilakukan secara musyawarah dan dibiayai oleh
pemerintah," katanya. Di samping itu di beberapa titik strategis, Pemkab
Sumbawa Barat akan membangun pos terutama di sekitar tebing yang berbatasan
dengan pesisir pantai. Dari lokasi ini wisatawan bisa menikmati keindahan
pemandangan laut.
Konsep pembangunan pariwisata di
Desa Budaya Bukit Mantar ini akan mengedepankan pariwisata berbasis masyarakat,
artinya para wisatawan yang berkunjung ke desa ini bisa menginap di rumah
penduduk yang berfungsi sebagai homestay. Ini akan menjadi sumber pendapatan
masyarakat, karena para wisatawan akan membayar penginapan dan makanan yang
disuguhkan untuk para wisatawan. Dengan cara ini masyarakat benar-benar akan
menikmati dampak pariwisata. Obyek wisata Budaya Bukit Mantar menawarkan
suasana pedesaan yang penuh kedamaian. Tak ada hotel bintang atau restoran
mewah, para tamu yang menginap akan disuguhkan menu makanan khas Sumbawa,
seperti "sepat" dan "singang" (masakan berbahan ikan).
Itulah gambaran mantar di masa yang akan datang. Sekarang sebagian yang
telah di rencanakan sudah terwujud seperti bangunan pos di sekitar tebing yang
berbatasan dengan pesisir pantai dan rumah masyarakat sudah di pakai sebagai tempat
penginapan wisatawan yang berfungsi sebagai Homestay. Ketika wisatawan
paragliding kesana maka akan di berikan penginapan di rumah penduduk dan di
bagi dalam satu rumah terdiri dari 2 atau 3 orang. masyarakat menerimanya
dengan senang hati. Kedepannya mantar akan banyak di kunjungi oleh wisatawan bukan
saja wisatawan lokal akan tetapi akan lebih banyak dari negara luar.
Rumah-rumah
panggung yang bernuansa pedesaan
Pada gambar di atas terlihat jelas
rumah-rumah panggung yang berjejer rapi mengelilingi lapangan desa mantar.
Kebanyakan orang yang belum pernah ke mantar menganggap bahwa di atas gunung
yang cukup tinggi ini tidak mungkin ada kehidupan. Memang benar Kalau desa ini
di lihat dari bawah gunung mantar seperti tidak ada kehidupan tetapi justru
setelah mereka melihat sendiri baru mereka percaya. kesejukan udara pegunungan
dan pemandangan yang indah menyimpan sejuta pesona kedamaian sehingga tidak ada
bosan-bosannya mata memandang. Desa Mantar masuk wilayah administratif
Kecamatan Poto Tano dengan luas wilayah 3.085 kilometer persegi. Hamparan sawah
dan kebun yang luas serta hawa pegunungan yang masih alami memberikan kedamaian
tersendiri bagi setiap pengunjung yang datang.
.
DESA YANG SANGAT INDAH DITAMBAH DENGAN KERAGAMAN PENDUDUKNYA..
ReplyDeleteKALAU MAU ..SAYA MAU MEMBANTU MENCERITAKAN SIAPA YANG MEMBAWA MEREKA KESANA SEBENARNYA DAN DIMANA SEKARANG ORANG YANG MEMBAWA MEREKA KESANA DI KUBUR..HUB SAYA TURAH PUTRA ATAU SMS .. 081999954098